Selasa, 15 April 2014

Ternyata Husnulkhatimah Bisa Kita Usahakan

"Husnul khatimah" terdiri dari 2 kata yaitu husnu (hasan = baik) dan al-khatimah (akhir)--artinya akhir yang baik. Konteks dari frase ini adalah kematian; mati yang baik di sisi Allah (bukan di mata manusia), yaitu mati dalam keadaan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dalam bermaksiat.  Tapi yang dulu saya ketahui, husnul khatimah adalah seperti lotere, yaitu kita tidak tahu apakah kita cukup beruntung untuk mendapatkannya.  Tapi, apakah betul kita tidak bisa mengusahakannya?

Pertama, kita luruskan dulu makna kata 'maksiat'.  Sebelumnya saya, dan mungkin juga banyak orang lainnya, menganggap yang termasuk maksiat itu 'hanya' perbuatan minum khamar (minuman keras), berzina dan urusan dgn lawan jenis, dan semacamnya.  Semenjak saya banyak belajar dan mengkaji tentang agama saya sendiri, yang sudah saya peluk sejak lahir namun saya sempat berhenti belajar bertahun-tahun lamanya bahkan hati dan jiwa saya sempat hanya menganggap agama hanya urusan akhirat saja tanpa ada hubungannya dengan dunia, banyak sekali pengetahuan (ilmu) baru yang membuka mata saya.  TERNYATA, maksiat adalah lawan dari taat.  Jadi, apa pun hal yang kita lakukan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah, adalah maksiat.  Meninggalkan shalat, melihat yang bukan hak kita, menipu, berlaku kasar pada kedua orangtua, makan harta haram, dan sebagainya.  Jadi, sekarang sudah clear ya, apa artinya maksiat.  (Terima kasih kepada para guru saya yang meluruskan pengertian ini, ustadz Fatih Karim dan ustadz Felix Siauw.)

Seperti disebutkan di paragraf pertama, maka husnul khatimah artinya mati yang baik, mati dalam melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dalam bermaksiat kepada Allah.

Adalah kenyataan bahwa manusia mati dalam rutinitas hidupnya, di tengah aktivitas dalam hidupnya. Seorang sopir bus mati sebagai sopir bus, apakah dlm perjalanan berangkat kerja, pulang kerja, atau sedang mengemudi bus.  Seorang pembalap mati sebagai pembalap; apakah di sirkuit, atau sedang berlibur dan berpesta dengan kekayaannya. Seorang pemabuk sangat mungkin mati dalam keadaan mabuk. Begitu juga peran2 yang lain.

Maka, untuk mendapatkan kematian yang baik di sisi Allah, caranya adalah melakukan aktivitas/rutinitas yang baik yang diridhoi Allah swt, dan niatkan segala aktivitas karena Allah.  Sehingga kapan pun ajal mendatangi kita, kita sedang melakukan ketaatan kepada Allah.  Apakah itu sedang dalam perjalanan menuju kajian ilmu Islam, sedang menyusui anak, sedang masak, sedang menjemput orangtua, dsb.  Ingat ingat, apa pun perbuatan baik jika diniatkan krn taat kepada Allah, maka semua aktivitas kita adalah ibadah.  Tapi jika tidak diniatkan karena Allah, maka amalan kita akan sia-sia. (Terima kasih kepada guru saya ustadz Abu Aliy yang telah menjelaskan bahwa kita bisa mengendalikan faktor menuju husnul khatimah sbg pilihan di tangan kita--dalam kajian tentang Qadha dan Qadar.)

Jadi, pilihan ada di tangan kita. Husnul khatimah bukan terkabul begitu saja hanya dengan keinginan tanpa usaha. Life is a choice.  Cara kita mati memang hanya Allah yang tahu. Tapi apakah kita mati dalam taat atau maksiat, kita bisa mengusahakannya. In sya Allah.

Semoga bermanfaat.