Rabu, 09 November 2022

KALKULASI PAHALA JARIYAH PENGEMBAN DAKWAH KETIKA MENINGGAL DUNIA. NOMOR 4 BIKIN MERINDING!

Oleh Ustadz Reza Ageung 

1. Yang pertama pahala tentu mengalir dari orang2 yang dia dakwahi lalu berubah. Jamaah pengajian yang tergugah, atau berubah baik pemikiran maupun perilaku setelah mendengar dakwahnya. 

2. Pahala besar juga dari kader2 yang dihalaqohi lalu bergerak berdakwah setelahnya. Juga dari rekan2 sesama pengemban dakwah yang terinspirasi baik oleh perilaku maupun tutur nasehat nya. Selama mereka berdakwah setelahnya, pahala mengalir terus. Masya Allah.

3. Selain itu, ia juga dapat pahala kolektif dari jamaah dakwah tempat dia berkiprah. Karena seorang pengemban dakwah itu ketika menjadi bagian dari jamaah dakwah, maka ia memiliki saham dalam jamaah tsb baik kecil maupun besar dan berhak mendapat sharing pahala hasil dakwah jamaah tsb. 

Saham paling kecil adalah : turut memperbesar tubuh jamaah dg kehadiran dirinya. Maka bersyukurlah antum wahai kader jamaah dakwah!

4. Yang terakhir, dan ini paling wow, ia dapat pahala dari masa depan. Lho kok bisa?! Jadi begini. Rasulullah saw sudah memberikan bisyarah akan kembali nya masa di mana umat kembali jaya, syariat diterapkan, khilafah ditegakkan. Saat itu kebaikan, kemuliaan, keadilan dan kesejahteraan kembali meliputi dunia. Apakah masa itu turun dari langit begitu saja? Tentu tidak. 

Melainkan hasil jerih payah para pengemban dakwah 10, 50, 100 tahun sebelumnya! Hatta pengemban dakwah yang "cuma" bertugas memasang spanduk acara, dapat kiriman pahala dari masa itu!

Bayangkan betapa besarnya kebaikan yang dihasilkan pada masa itu, dan hasilnya mengalir kepada pengemban dakwah masa sekarang.

Wallahi ini yang membuat ana terus terjaga dari rasa futur. MasyaAllah !

Terpilih menjadi pengemban dakwah adalah kemuliaan yang tak ternilai. Maka apakah kita sudah mensyukurinya?! Semoga kita selalu diberi keistiqomahan oleh Allah swt dan diwafatkan di atas rel perjuangan dalam keadaan husnul khatimah.


Sumber: post mbak Anita di fb

Link: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0212McEZceYyLcrzNkxsntpPup3Fxqf9BbH2YPN18Kq3sjQWKc6kxUXQSP5hee4dvKl&id=100000428071127&sfnsn=wiwspmo&mibextid=A6UzCZ

Kamis, 04 Juni 2015

Hikmah Perang Uhud

Sirah Nabawiyah @ Radio Fajri 99.3 FM 
Senin, 25 Mei 2015 jam 08:30-09:00.
(Maaf baru sempat share.)

Kisah singkatnya:
Dalam perang Uhud, awalnya kemenangan sudah di tangan kaum Muslimin. Namun saat kaum Muslimin sedang membagikan ghanimah, sebagian besar pemanah di atas bukit tergiur sehingga mengabaikan perintah Rasulullah utk tetap berjaga di atas bukit. Mereka turun, kecuali sebagian kecil saja.

Orang2 musyrikin melihat kesempatan tsb dan berhasil membalik kedudukan sehingga kaum Muslimin tercerai-berai. Bahkan sempat berhembus isu bahwa Rasulullah telah terbunuh. Saat itu orang2 yg benar2 beriman justru semakin terbakar semangat jihadnya, krn menginginkan syahid seperti Rasulullah.

Dalam perang Uhud ini sangat banyak kaum Muslimin yg syahid, bahkan dlm kondisi fisik tercincang.

Setelah perang Uhud, orang2 munafik semakin terlihat karena mereka berkata betapa sia2nya org2 yg berangkat berperang lalu mati. Pasca perang Uhud semakin terlihat beda antara orang2 yg benar2 beriman dgn org2 munafik.

Hikmah Perang Uhud:

- Sbg ukuran kualitas ibadah & keimanan pemimpin & yg dipimpin.

- Bahwa tidak menaati Rasulullah akan menyebabkan terjadinya fitnah. Maka kita hrs berpegang teguh kpd perintah Allah utk menaati Rasulullah.

- Bahwa sunatullah tetap berlaku yaitu kemenangan & kekalahan itu silih berganti, utk membedakan muslim yg memeluk Islam dgn alasan yg benar, dgn yg menginginkan dunia (krn terpaksa, ingin kekuasaan, harta, ketenaran, dsb)).
Dengan terjadinya kondisi kekalahan kaum Muslimin, maka akan selalu ada segolongan orang2 yg pesimis, yg tidak yakin kpd Allah & RasulNya.

Dengan peristiwa ini kita bisa mengambil hikmah atas keadaan yg terjadi saat ini di mana terlihat orang2 yg tetap berjuang krn yakin akan janji Allah melalui lisan RasulNya, dgn orang2 yg pesimis dan menganggap usaha mereka sia2 dan perkataan Rasulullah tidak masuk akal.

‪#‎SomethingToThinkAbout‬


Minggu, 26 April 2015

Syarat Mengizinkan Non-Muslim Masuk Masjid

Rasulullah pernah menerima orang kafir di dalam masjid, untuk didakwahi tentang Islam. Berdasarkan riwayat tsb maka syarat membolehkan org kafir masuk masjid adalah:
  1. Tidak ada perjanjian sebelumnya dgn kafir dzimmi* ttg pelarangan masuk masjid;
  2. Yg memberi ijin adalah seorang mukallaf** yg sempurna;
  3. Masuk ke masjid dengan tujuan mendengarkan al Qur'an / penjelasan tentang Islam dengan harapan org kafir tsb masuk Islam.






Kafir dzimmi (ahludz-dzimmah) adalah orang non-Muslim yang merupakan warga negara daulah Islam, yg mendapat perlindungan dan diurus oleh pemerintah sebagaimana warga negara yg Muslim.
**Mukallaf artinya orang yang ter-taklif (terbebani) hukum2 Allah, yaitu manusia yg sudah mencapai kedewasaan (baligh) dan berakal sehat. Dalam konteks ini mukallaf yang dimaksud adalah yg mukallaf yang Muslim.

Sumber: Sirah Nabawiyah (Fajri 99.3 fm, senin 27 april 2015)

Kamis, 05 Februari 2015

Visi Rasulullah untuk Generasi Abad 21

Kajian oleh Ustadz Budi Ashari, Lc.

Visi Umat Saat Ini

Suatu peradaban terbentuk dari masyarakat, sedangkan masyarakat terbentuk dari komunitas terkecil yaitu keluarga.  Maka tinggi/rendahnya suatu peradaban diawali dengan tinggi/rendahnya kualitas keluarga-keluarga di dalamnya.

ISLAM meminta kita untuk memiliki VISI yang BESAR.  Namun sayangnya fakta berkata bahwa umat Islam di zaman ini hanya memiliki visi yang kecil dan remeh dalam sudut pandang Islam.

Apa contohnya?
  1. Perhatikan tujuan para orangtua menyekolahkan anak-anaknya: Supaya kelak bisa punya pekerjaan yang bagus, punya rumah yang bagus, punya kendaraan sendiri?
  2. Perhatikan betapa bangga dan puasnya para orangtua yang anak-anaknya "sukses": punya pekerjaan bagus, punya rumah, punya kendaraan, sudah menikah, punya anak...

Itulah definisi SUKSES yang diadopsi oleh umat Islam di zaman ini.  Diadopsi?  Ya, diadopsi dari orang-orang kafir yang tidak mengetahui, tidak mengerti apalagi meyakini akhirat.  Hal yang dianggap kesuksesan luar biasa oleh orang-orang kafir, namun sesungguhnya sangat remeh dalam pandangan Islam.

Dari contoh di atas, ternyata saat ini kita menuntut ilmu untuk tujuan dunia.  Sudah tahukah Anda apa sabda Nabi Muhammad saw. tentang orang yang menuntut ilmu untuk tujuan dunia?

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ أَبِي طُوَالَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yg seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. [HR. Abu Daud No.3179].

Melemahnya Umat Islam

Umat Islam saat masih bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah yang menerapkan hukum (syari'at) Allah adalah suatu umat yang kuat.  Daulah Islam menguasai peradaban yang tinggi. Rakyat yang hidup di dalamnya, baik Muslim maupun non-Muslim, hidup aman sejahtera dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang pesat.  Namun saat kaum Muslim mulai menurunkan standar visinya dan disibukkan oleh hal-hal remeh (duniawi), saat itulah dimulainya kemunduran.

Belajarlah dari sejarah salah satu penyebab lepasnya Andalus dari tangan kaum Muslimin, yaitu hadirnya seorang pemusik dari Iraq yang pindah ke Andalus, bernama Abu Al Hasan Ali bin Nafi' (atau dikenal juga dengan sebutan Ziryab).  Dialah yang mengajari masyarakat Andalus tentang menyanyi, table manner (termasuk urutan makan dari appetizer - main course - dessert), makan 3 kali sehari, dress code, hairstyle dsb.  Sehingga umat Muslim mulai menyukai dan disibukkan dengan hal-hal remeh tersebut. Maka masjid-masjid di Andalus mulai sepi. Muslimin makin jauh dari Islam karena makin cinta dunia.

Benarlah sabda Rasulullah SAW berikut:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ 
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278).

Visi Misi Keluarga Muslim

Sumber hukum Islam telah menjelaskan visi & misi keluarga Muslim dalam dalil-dalil sebagai berikut:

Menjaga Diri & Keluarga dari Api Neraka

Dalil: Al Qur'an surah At Tahrim (66): 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ini adalah perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman.  Menjaga diri dan keluarga dari api neraka berarti tidak boleh ada perbuatan ahli neraka yang masuk ke dalam keluarga dan rumah kita.

Rasulullah saw. sebagai suri teladan telah memberi contoh betapa beliau tidak pernah berkompromi dalam hal ini, bahkan kepada anak-anak.  Hal ini terlihat dari riwayat saat cucu beliau, Hasan, mengambil sebiji kurma dari tempat kurma-kurma zakat/sedekah.  Beliau segera menyuruh cucunya yang masih kecil itu untuk mengeluarkan kurma itu dari mulutnya. Namun Hasan tidak mengeluarkannya, sehingga Rasulullah saw. memasukkan jarinya ke mulut cucu beliau dan mengeluarkan kurma itu.  Saat itu usia Hasan masih kecil, namun Rasulullah tidak memberi kompromi.

Bagaimana dengan kita? Kita biasa memakai kata "maklum" atas perbuatan anak-anak.  Bahkan saat ini kita berstandar ganda; di satu sisi mengakui harus menjauhi yang haram, tapi di sisi lain kita menikmati perbuatan/hal-hal yang haram karena membuat hidup lebih mudah (contoh: pinjaman/cicilan dengan riba dan transaksi/muamalah dengan akad-akad bathil).  Ingatlah bahwa Rasulullah saw. mencontohkan bahwa tidak boleh ada kompromi dalam menjauhkan diri dan keluarga dari neraka.  Tegakah kita jika salah satu anggota keluarga kita disiksa di neraka?

Mewujudkan Pasangan dan Keturunan Penyejuk Mata dan Pemimpin bagi Masyarakat Bertakwa

Dalil: Al Qur'an surah Al Furqan (25): 74
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Perhatikanlah do'a yang indah ini: 
  1. Ayat ini mendahulukan kata 'pasangan', baru kemudian menyebut 'keturunan'.
  2. Ayat ini mendahulukan do'a meminta 'penyejuk hati', baru memohon 'jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'
Al Qur'an sebagai mu'jizat, berisi kalamullah yang begitu sempurna baik dalam pemilihan kata maupun urutan peletakan kata.  Mari kita renungkan kedua poin di atas:

Poin 1.
  • Sudah sewajarnya bahwa kita mempunyai pasangan yang sah secara syari'at sebelum mempunyai keturunan.
  • Keturunan baru akan menjadi penyejuk mata saat kita berhasil mewujudkan pasangan yang menjadi penyejuk mata bagi kita.  Amat sulit mewujudkan keturunan yang istimewa saat hubungan pasangan tidak baik.
Poin 2.
  • Pemimpin yang baik lahir dari keturunan yang menjadi penyejuk mata dalam keluarga.  Rumah adalah tempat utama lahirnya para pemimpin istimewa.  Kegagalan menghadirkan pemimpin yang adil dan penuh belas kasih adalah bukti kegagalan keluarga Muslim menanamkan pondasi awal seorang calon pemimpin yang menyejukkan mata di rumah.
Mewujudkan pemimpin yang baik, yang lahir sebagai penyejuk mata dalam keluarga inilah yang menjadi masalah umat saat ini.

Rasulullah saw. dan para sahabatnya memberi teladan kepada kita betapa mereka saat menjadi pemimpin umat, tetap memiliki waktu untuk bercengkerama bersama keluarga dan bermain bersama anak-cucu mereka.

Dalam sebuah riwayat bahkan Khalifah Umar bin Khatthab r.a. pernah batal memberikan jabatan kepada seseorang setelah mengetahui bahwa orang tersebut tidak pernah memeluk dan mencium anak-anaknya.

Bersama Hingga di Surga

Dalil: Qur'an surah At Thur (52): 21
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Tidakkah kita ingin berkumpul kembali dengan keluarga kita kelak di surga? 

Jadikanlah pembicaraan tentang surga sebagai pembicaraan dalam keluarga.  Sampaikanlah betapa inginnya kita berkumpul kembali bersama pasangan dan anak-anak kita di surga kelak, sehingga visi ini akan tertanam dalam hati setiap individu dalam keluarga dan akan bersama-sama mengusahakan terwujudnya visi ini.

Melahirkan Generasi Penegak Khilafah

Dalil: Hadits Rasulullah saw. diriwayatkan oleh Ahmad:
Dari Hudzaifah bin Al Yaman, Rasulullah saw. bersabda:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن يكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت
"Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah)." Kemudian beliau (Nabi) diam.
Dalam hadits di atas Rasulullah saw. menjelaskan tentang 5 fase zaman:
  1. Masa Kenabian (Nubuwwah);
  2. Masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah);
  3. Masa Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Adhdhon);
  4. Masa Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyyah);
  5. Masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah).

Fase ke-1. Masa Kenabian (Nubuwwah) 

Ini adalah masa Rasulullah saw., hingga beliau wafat. Beliaulah yang menjadi pemimpin dan mengurus kesejahteraan dan keamanan seluruh umat Islam, baik masyarakat Arab maupun non-Arab yang berada dalam naungan Daulah Islam.

Fase ke-2. Masa Khilafah Berdasar Sistem Kenabian (Khilafah 'ala minhaj an-Nubuwwah)

Khilafah adalah sistem kepemimpinan untuk seluruh umat Muslimin di seluruh dunia, dengan satu pemimpin, satu aturan berdasarkan syari'at Islam. 

Ini adalah masa para sahabat Rasulullah saw. memimpin, diawali dengan Abu Bakar r.a. (2 tahun), dilanjutkan oleh Umar bin Khatthab r.a. (10 tahun), Utsman bin Affan r.a. (12 tahun), Ali bin Abu Thalib r.a. (6 tahun), diakhiri dengan kepemimpinan Hasan bin Ali r.a. (6 bulan) yang mengundurkan diri pada bulan Rabi'ul Awwal, tepat 30 tahun wafatnya Rasulullah saw.

Fase ke-3. Masa Kekuasaan yang menggigit (Mulkan 'Adhdhon)

Fase yang muncul selanjutnya adalah kerajaan, ditandai dengan berdirinya Dinasti Bani Umayyah. Dalam fase ini kekuasaan masih berada di tangan Muslimin.  Namun dalam fase ini terjadi naik-turun keadilan tergantung pemimpin, kadang baik dan adil, terkadang juga zhalim.  Tapi pemimpin pada fase ini masih menegakkan syari'at Islam.

Fase ke-4. Masa Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyyah)

Pada fase ini dimulailah keterpurukan umat diawali dengan hilangnya kekuasaan kepemimpinan umat Muslim di muka bumi sehingga syari'at Allah (Islam) tidak lagi diterapkan, dan umat Muslim menjadi korban terbesar dari masa ini.

Para ulama mengatakan bahwa saat ini kita berada di fase ke-4.

Fase ke-5. Masa Khilafah Berdasar Sistem Kenabian (Khilafah 'ala minhaj an-Nubuwwah)

Fase ini belum terjadi, dan akan terjadi karena Rasulullah saw. tidaklah bersabda melainkan apa yang disampaikan beliau adalah wahyu dari Allah swt.  Pada fase ke-5 ini akan hadir para pemimpin yang adil dan membawa kesejahteraan bagi rakyat.

Rasulullah menamakan fase ini sama seperti fase ke-2.  Generasi seperti apa yang diperlukan untuk masa khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah?  Ternyata kita telah diberi contoh yang lengkap dari sejarah di fase ke-2. 

Melahirkan Generasi Pembuka Roma

Dalil: Hadits Rasulullah saw.:

فقال عبد الله بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي المدينتين تفتح أولا قسطنطينية أو رومية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مدينة هرقل تفتح أولا يعني قسطنطينية
Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata,
“bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah saw untuk menulis, tiba-tiba beliau saw ditanya tentang kota manakah yang akan difutuh (dibebaskan) terlebih dahulu, apakah kota Konstantinopel atau kota Roma”. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel)” (HR Ahmad)
Pernyataan Rasulullah saw. ini disampaikan sekitar tahun 5 H atau 627 M, dan menjadi kenyataan di tahun 857 H atau 1453 M  yaitu lebih dari 8 abad kemudian.  Dulu Romawi terbagi menjadi 2 wilayah yaitu Romawi Barat yang terletak di Italia dan Romawi Timur yang meliputi wilayah Syam (Suriah, Palestina, Libanon, Yordania) dengan ibukota Konstantinopel (saat ini Istambul, Turki).  Konstantinopel adalah lambang kebanggaan Kristen Ortodoks dan merupakan benteng yang kuat tak terkalahkan pada masa itu.

Rasulullah saw. bersabda:
لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel; sehebat-hebat amir (panglima perang) adalah amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya. (HR Ahmad)

Selama berabad-abad para pejuang Muslim berusaha memantaskan diri untuk menjadi pembebas Konstantinopel seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut, namun belum ada yang berhasil. Hingga akhirnya pertahanan kokoh Konstantinopel runtuh oleh pasukan Muslim yang dipimpin oleh seorang anak muda berusia 24 tahun yang dikenal dengan nama Muhammad Al Fatih.

Sabda Rasulullah saw. di atas telah menjadi kenyataan, untuk Konstantinopel.  Maka apa yang ada di depan mata kita kelak adalah pembebasan Roma.  Inilah yang akan menjadi masa generasi yang akan datang.

Maka, ajarkanlah ilmu-ilmu yang akan bermanfaat kelak di zaman anak-anak kita dewasa. Jangan ajarkan ilmu yang hanya akan dikubur kelak saat kebangkitan Islam.  

Dan luruskanlah visi mendidik anak-anak dengan visi yang besar (akhirat), tidak lagi visi duniawi.

Bagaimana melahirkan generasi pembuka Roma?

Inilah pertanyaan terpenting, yang jawabannya menjadi tugas kita.

Semua Berawal dari Sini:
قال جندب بن جنادة رضي الله عنه: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان. رواه ابن ماجه وصححه الألباني
Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami telah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

Dalam hadits di atas diriwayatkan bahwa yang pertama diajarkan Nabi saw. adalah  IMAN. Rasulullah saw. selama masa-masa awal di Mekah membina umat Muslim dengan aqidah (keimanan). Ayat-ayat Qur’an yang turun di Mekah banyak berisi tentang kejadian di Hari Kiamat, surga dan neraka.

Maka hendaklah kita mengajarkan IMAN terlebih dahulu kepada anak-anak. Jangan diubah urutannya.

Iman yang tertanam dalam dan kuat membuat umat Muslim tidak tawar-menawar akan syari’at Allah.  Jika kita ajarkan halal/haram (syari’at) terlebih dahulu, jangankan anak-anak, orang dewasa pun akan ‘lari’ duluan.

Tanamkan pengertian tentang tauhid, sifat-sifat ketuhanan-Nya, Allah-lah yang menciptakan dan mengatur seluruh langit dan bumi beserta isinya, Allah-lah yang memberikan rezeki dan kenikmatan, hanya Allah-lah yang diibadahi, dan seterusnya.  Jelaskan tentang nama-nama baik Allah (asma’ul-husna) dan pengertian di dalamnya, sehingga saat membaca surah-surah Al Qur’an anak-anak akan semakin terdorong untuk memahaminya.

Belajar dari Sejarah

Imam Malik r.a.:
Generasi ini tidak akan pernah bisa baik kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal.
Sejarah itu berulang. Keadaan umat Muslim dahulu sama seperti kita sekarang. Jika kita mengeluh tentang teknologi, maka teknologi sudah ada sejak dahulu, hanya berubah bentuk.  Media? Media pun sudah ada sejak dulu, hanya berubah bentuk.  Tantangan dari lingkungan terhadap umat Muslim? Itu pun sudah ada sejak awal--Islam hadir sebagai sesuatu yang asing di tengah masyarakat Arab jahiliyah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.
Maka percayalah pada janji Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah saw., bahwa umat Muslim akan kembali bangkit.  Untuk itu siapkanlah anak-anak kita untuk berperan di zamannya nanti, zaman kebangkitan Islam. In sya Allah.

Wallahu a’lam

==
Sumber: 
Budi Ashari, Lc., kajian Parenting Nabawiyyah Visi Rasulullah untuk Generasi Abad 21 dan buku Inspirasi dari Rumah Cahaya.


  

Kamis, 04 Desember 2014

Berbahagialah Orang-orang yang Terasing

Kajian kitab Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah (Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah) oleh Ustadz Fatih Karim
(Referensi lain ada di akhir tulisan ini)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.

Siapakah orang-orang yang terasing (al-ghuraba) itu? Rasulullah saw. bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah."  Yaitu orang-orang yang bertentangan dan bukan bagian dari kabilah-kabilah.

Islam dibawa Rasulullah saw. sebagai ajaran yang asing di kalangan masyarakat jahiliyah (jahil=bodoh).  Bayangkan:

  • Pada masa itu masyarakat menyembah berhala, tiba-tiba datang ajaran yang membawa kalimat tauhid: "Tidak ada ilah (sembahan) selain Allah".  
  • Pada masa itu masyarakat biasa membunuh bayi perempuan, tiba-tiba datang ajaran yang melarang membunuh bayi-bayi perempuan.  
  • Pada masa itu masyarakat terbiasa dengan riba, tiba-tiba datang ajaran yang melarang riba. 
...dan seterusnya.  Hampir semua perilaku masyarakat yang dianggap wajar saat itu justru dilarang oleh Islam dan diganti dengan perintah dan larangan yang bertentangan dengan kebiasaan.

Sebagai umat yang terasing, kita disatukan dengan aqidah Islam. Islam datang dan membuang kebiasaan-kebiasaan jahiliyah termasuk ashabiyah (membangga-banggakan kelompok/golongan/bangsa).  Islam menyatukan manusia dari berbagai ras/suku/bangsa, bukan justru memecah-belah manusia dalam kotak-kotak negara (nasionalisme).

Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Jabir bin Abdillah ia menyampaikan bahwa Rasulullah berkhutbah kepada kami pada pertengahan hari tasyriq dalam kesempatan khutbah di haji wada'

قال : ((أَيُّهَا النَّاس أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِد ، أَلاَ إِنَّ رَبّكُمْ وَاحِد ، أَلاَ إِنَّ أَبَاكُم وَاحِد ، أَلاَ لَا فَضْلَ لعَرَبي عَلَى أَعْجَمِيّ ، وَلاَ لعجمي عَلَى عَرَبّي ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ ، وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَد إِلاَّ بالتَّقْوَى)) إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Rasulullah saw. bersabda, "Hai sekalian manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Rabb kalian satu, ingatlah bahwa sesungguhnya Rabb kalian satu, ingatlah pula bahwa ayah kalian satu, ingat tidak ada keutamaan orang Arab atas orang non Arab, dan tidak ada keutamaan non Arab atas orang Arab, dan tidak juga orang berkulit hitam atas orang berkulit merah dan tidak ada keutamaan orang kulit merah dari kulit hitam melainkan dengan ketakwaannya, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa di antara kalian." (Hadits Shohih Riwayat Ahmad dan Baihaqi dalam sunannya).1)

Bagi yang sudah pernah beribadah haji atau umroh semestinya telah merasakan saat berada di tanah suci, betapa kita adalah satu umat, tidak ada pengkotakan berdasarkan warna kulit, tidak ada bendera-bendera yang berkibar membanggakan negara masing-masing, karena memang Islam tidak mengajarkan ashabiyah.  Umat Islam tidak mengenal bendera-bendera tersebut hingga runtuhnya Daulah Islamiyah saat wilayah negeri-negeri Islam dibagi-bagi kepada para penjajah: Indonesia untuk Belanda, Malaysia untuk Inggris, dst, sedangkan pusat pemerintahan Islam di Turki dijadikan Republik Turki dan berakhirlah Daulah Islam secara resmi pada tanggal 3 Maret 1924.2)

Saat ini, Islam bahkan terasing di kalangan umat Islam sendiri, dari urusan sehari-hari hingga hal yang lebih besar.  Contohnya, ternyata banyak umat Islam yang belum mengerti tentang zakat (hukumnya, haul dan nishab, 8 golongan penerima zakat), tentang peraturan interaksi pria dan wanita (larangan khalwat, ikhtilath, tentang khitbah, ta'aruf, akad nikah, walimah), tentang bersuci termasuk mandi janabah, tentang betapa besarnya dosa riba dan bahwa riba saat ini muncul dalam bentuk-bentuk dan nama-nama baru, hukum menyerupai orang kafir/musyrik, dst.

Rasulullah saw. bersabda bahwa pada akhir zaman akan ada masa penuh kesabaran.  Bagi mereka yang bersabar memegang teguh Islam pada masa-masa yang amat sulit tersebut, akan diganjar dengan pahala setara pahala 50 orang sahabat Rasulullah saw.

Beberapa Sifat Orang-orang yang Terasing

1. Senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak

Hadits yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad as-Saidi ra., Rasulullah saw. bersabda: Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, siapa al-ghuraba ini?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.” (Hadits ini diriwayatkan oleh athThabrâni dalam al-Kabir).

2. Jumlahnya sedikit

Ahmad dan ath-Thabrâni dari Abdullah bin Amru, ia berkata; Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: Akan datang suatu kaum pada hari kiamat kelak. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abû Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, dan khusus untuk kalian ada kebaikan yang banyak. Mereka adalah orang-orang fakir dan orang-orang yang berhijrah yang berkumpul dari seluruh pelosok bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagian bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih di antara kebanyakan manusia yang buruk. Di mana orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada yang menaatinya.” (al-Haitsami berkata hadits ini dalam al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih).

3. Mereka adalah kaum yang beraneka ragam

Al-Hâkim meriwayatkan dalam al-Mustadrak, ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya, meski tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim.”  Dari Ibnu Umar ra., ia berkata; Rasulullah bersabda: Sesunggunya Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan para Nabi dan syuhada. Para Nabi dan syuhada pun ber-ghibthah3) pada mereka di hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang Arab Badui (yang ada di tempat nabi berbicara) duduk berlutut, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka dan uraikanlah keadaan mereka pada kami!” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah sekelompok manusia yang beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka di hari kiamat. Orang-orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan mereka tidak bersedih.”

4. Mereka saling mencintai dengan "ruh" Allah

Yang dimaksud (“ruh” Allah) adalah syariat nabi Muhammad. Maksudnya, perkara yang menjadi pengikat di antara mereka adalah ideologi (mabda‘) Islam, bukan yang lainnya. Mereka tidak diikat oleh ikatan yang lain, baik ikatan nasab, ikatan kekerabatan, ikatan kemaslahatan atau kemanfaatan duniawi.

Abû Dawud mengeluarkan hadits dengan para rawi yang terpercaya, dari Umar bin al-Khathab ra., ia berkata; Rasulullah bersabda: Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok
manusia. Mereka bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah) dan tidak bersedih”.

5. Mereka memperoleh kedudukan itu tanpa menjadi syuhada

Hal ini dikarenakan dalam hadits dikatakan para syuhada tergiur oleh mereka. Tapi, ini tidak berarti mereka lebih utama dari pada para Nabi dan syuhada. Melainkan kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Keistimewaan itu tidak menjadikan mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada.

Wallahu a'lam


1) Sumber: Wahai Anak Budak Hitam | Cahaya Siroh
2) Sumber: Bagaimana Khilafah Diruntuhkan | Felix Siauw
3) Ghibthah artinya berangan-angan agar ada pada diri mereka apa yang ada pada diri hamba-hamba Allah tersebut, meski pada saat yang sama apa yang ada pada diri hamba-hamba tersebut tetap ada. (Lihat Imam al-Manawy, Faydhul Qadir Syarhu al-Jami’ ashShaghir)


Kamis, 08 Mei 2014

Riyadhus Shalihin: Menyelamatkan Negeri dari Kebinasaan

Kajian: Tafsir hadits kitab Riyadhus Shalihin

Jika berada dalam kapal & melihat orang2 berusaha melubangi kapal, apa yg akan kita lakukan? Membiarkan mereka? Atau, mencegah mereka?

Ternyata...

Suatu negeri bisa ditimpa kehancuran atau kebinasaan gara-gara kemaksiatan yang dibiarkan begitu saja di tengah-tengah masyarakat tanpa ada yang berusaha menghentikannya.

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Sudah banyak contoh negeri yang dibinasakan oleh Allah karena kemungkaran sudah amat sangat merajalela dan masyarakat menolak untuk berubah. Semoga negeri kita yang sudah carut-marut ini masih bisa diselamatkan. Jika tidak, kita semua akan binasa... Na'uudzubillaahi min dzaalik.

Selasa, 15 April 2014

Ternyata Husnulkhatimah Bisa Kita Usahakan

"Husnul khatimah" terdiri dari 2 kata yaitu husnu (hasan = baik) dan al-khatimah (akhir)--artinya akhir yang baik. Konteks dari frase ini adalah kematian; mati yang baik di sisi Allah (bukan di mata manusia), yaitu mati dalam keadaan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dalam bermaksiat.  Tapi yang dulu saya ketahui, husnul khatimah adalah seperti lotere, yaitu kita tidak tahu apakah kita cukup beruntung untuk mendapatkannya.  Tapi, apakah betul kita tidak bisa mengusahakannya?

Pertama, kita luruskan dulu makna kata 'maksiat'.  Sebelumnya saya, dan mungkin juga banyak orang lainnya, menganggap yang termasuk maksiat itu 'hanya' perbuatan minum khamar (minuman keras), berzina dan urusan dgn lawan jenis, dan semacamnya.  Semenjak saya banyak belajar dan mengkaji tentang agama saya sendiri, yang sudah saya peluk sejak lahir namun saya sempat berhenti belajar bertahun-tahun lamanya bahkan hati dan jiwa saya sempat hanya menganggap agama hanya urusan akhirat saja tanpa ada hubungannya dengan dunia, banyak sekali pengetahuan (ilmu) baru yang membuka mata saya.  TERNYATA, maksiat adalah lawan dari taat.  Jadi, apa pun hal yang kita lakukan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah, adalah maksiat.  Meninggalkan shalat, melihat yang bukan hak kita, menipu, berlaku kasar pada kedua orangtua, makan harta haram, dan sebagainya.  Jadi, sekarang sudah clear ya, apa artinya maksiat.  (Terima kasih kepada para guru saya yang meluruskan pengertian ini, ustadz Fatih Karim dan ustadz Felix Siauw.)

Seperti disebutkan di paragraf pertama, maka husnul khatimah artinya mati yang baik, mati dalam melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dalam bermaksiat kepada Allah.

Adalah kenyataan bahwa manusia mati dalam rutinitas hidupnya, di tengah aktivitas dalam hidupnya. Seorang sopir bus mati sebagai sopir bus, apakah dlm perjalanan berangkat kerja, pulang kerja, atau sedang mengemudi bus.  Seorang pembalap mati sebagai pembalap; apakah di sirkuit, atau sedang berlibur dan berpesta dengan kekayaannya. Seorang pemabuk sangat mungkin mati dalam keadaan mabuk. Begitu juga peran2 yang lain.

Maka, untuk mendapatkan kematian yang baik di sisi Allah, caranya adalah melakukan aktivitas/rutinitas yang baik yang diridhoi Allah swt, dan niatkan segala aktivitas karena Allah.  Sehingga kapan pun ajal mendatangi kita, kita sedang melakukan ketaatan kepada Allah.  Apakah itu sedang dalam perjalanan menuju kajian ilmu Islam, sedang menyusui anak, sedang masak, sedang menjemput orangtua, dsb.  Ingat ingat, apa pun perbuatan baik jika diniatkan krn taat kepada Allah, maka semua aktivitas kita adalah ibadah.  Tapi jika tidak diniatkan karena Allah, maka amalan kita akan sia-sia. (Terima kasih kepada guru saya ustadz Abu Aliy yang telah menjelaskan bahwa kita bisa mengendalikan faktor menuju husnul khatimah sbg pilihan di tangan kita--dalam kajian tentang Qadha dan Qadar.)

Jadi, pilihan ada di tangan kita. Husnul khatimah bukan terkabul begitu saja hanya dengan keinginan tanpa usaha. Life is a choice.  Cara kita mati memang hanya Allah yang tahu. Tapi apakah kita mati dalam taat atau maksiat, kita bisa mengusahakannya. In sya Allah.

Semoga bermanfaat.