(Referensi lain ada di akhir tulisan ini)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.Siapakah orang-orang yang terasing (al-ghuraba) itu? Rasulullah saw. bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah." Yaitu orang-orang yang bertentangan dan bukan bagian dari kabilah-kabilah.
Islam dibawa Rasulullah saw. sebagai ajaran yang asing di kalangan masyarakat jahiliyah (jahil=bodoh). Bayangkan:
- Pada masa itu masyarakat menyembah berhala, tiba-tiba datang ajaran yang membawa kalimat tauhid: "Tidak ada ilah (sembahan) selain Allah".
- Pada masa itu masyarakat biasa membunuh bayi perempuan, tiba-tiba datang ajaran yang melarang membunuh bayi-bayi perempuan.
- Pada masa itu masyarakat terbiasa dengan riba, tiba-tiba datang ajaran yang melarang riba.
Sebagai umat yang terasing, kita disatukan dengan aqidah Islam. Islam datang dan membuang kebiasaan-kebiasaan jahiliyah termasuk ashabiyah (membangga-banggakan kelompok/golongan/bangsa). Islam menyatukan manusia dari berbagai ras/suku/bangsa, bukan justru memecah-belah manusia dalam kotak-kotak negara (nasionalisme).
Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Jabir bin Abdillah ia menyampaikan bahwa Rasulullah berkhutbah kepada kami pada pertengahan hari tasyriq dalam kesempatan khutbah di haji wada'
قال : ((أَيُّهَا النَّاس أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِد ، أَلاَ إِنَّ رَبّكُمْ وَاحِد ، أَلاَ إِنَّ أَبَاكُم وَاحِد ، أَلاَ لَا فَضْلَ لعَرَبي عَلَى أَعْجَمِيّ ، وَلاَ لعجمي عَلَى عَرَبّي ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ ، وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَد إِلاَّ بالتَّقْوَى)) إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Rasulullah saw. bersabda, "Hai sekalian manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Rabb kalian satu, ingatlah bahwa sesungguhnya Rabb kalian satu, ingatlah pula bahwa ayah kalian satu, ingat tidak ada keutamaan orang Arab atas orang non Arab, dan tidak ada keutamaan non Arab atas orang Arab, dan tidak juga orang berkulit hitam atas orang berkulit merah dan tidak ada keutamaan orang kulit merah dari kulit hitam melainkan dengan ketakwaannya, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa di antara kalian." (Hadits Shohih Riwayat Ahmad dan Baihaqi dalam sunannya).1)
Bagi yang sudah pernah beribadah haji atau umroh semestinya telah merasakan saat berada di tanah suci, betapa kita adalah satu umat, tidak ada pengkotakan berdasarkan warna kulit, tidak ada bendera-bendera yang berkibar membanggakan negara masing-masing, karena memang Islam tidak mengajarkan ashabiyah. Umat Islam tidak mengenal bendera-bendera tersebut hingga runtuhnya Daulah Islamiyah saat wilayah negeri-negeri Islam dibagi-bagi kepada para penjajah: Indonesia untuk Belanda, Malaysia untuk Inggris, dst, sedangkan pusat pemerintahan Islam di Turki dijadikan Republik Turki dan berakhirlah Daulah Islam secara resmi pada tanggal 3 Maret 1924.2)
Saat ini, Islam bahkan terasing di kalangan umat Islam sendiri, dari urusan sehari-hari hingga hal yang lebih besar. Contohnya, ternyata banyak umat Islam yang belum mengerti tentang zakat (hukumnya, haul dan nishab, 8 golongan penerima zakat), tentang peraturan interaksi pria dan wanita (larangan khalwat, ikhtilath, tentang khitbah, ta'aruf, akad nikah, walimah), tentang bersuci termasuk mandi janabah, tentang betapa besarnya dosa riba dan bahwa riba saat ini muncul dalam bentuk-bentuk dan nama-nama baru, hukum menyerupai orang kafir/musyrik, dst.
Rasulullah saw. bersabda bahwa pada akhir zaman akan ada masa penuh kesabaran. Bagi mereka yang bersabar memegang teguh Islam pada masa-masa yang amat sulit tersebut, akan diganjar dengan pahala setara pahala 50 orang sahabat Rasulullah saw.
Beberapa Sifat Orang-orang yang Terasing
1. Senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak
Hadits yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad as-Saidi ra., Rasulullah saw. bersabda: Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, siapa al-ghuraba ini?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.” (Hadits ini diriwayatkan oleh athThabrâni dalam al-Kabir).2. Jumlahnya sedikit
Ahmad dan ath-Thabrâni dari Abdullah bin Amru, ia berkata; Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: Akan datang suatu kaum pada hari kiamat kelak. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abû Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, dan khusus untuk kalian ada kebaikan yang banyak. Mereka adalah orang-orang fakir dan orang-orang yang berhijrah yang berkumpul dari seluruh pelosok bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagian bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih di antara kebanyakan manusia yang buruk. Di mana orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada yang menaatinya.” (al-Haitsami berkata hadits ini dalam al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih).3. Mereka adalah kaum yang beraneka ragam
Al-Hâkim meriwayatkan dalam al-Mustadrak, ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya, meski tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim.” Dari Ibnu Umar ra., ia berkata; Rasulullah bersabda: Sesunggunya Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan para Nabi dan syuhada. Para Nabi dan syuhada pun ber-ghibthah3) pada mereka di hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang Arab Badui (yang ada di tempat nabi berbicara) duduk berlutut, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka dan uraikanlah keadaan mereka pada kami!” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah sekelompok manusia yang beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka di hari kiamat. Orang-orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan mereka tidak bersedih.”4. Mereka saling mencintai dengan "ruh" Allah
Yang dimaksud (“ruh” Allah) adalah syariat nabi Muhammad. Maksudnya, perkara yang menjadi pengikat di antara mereka adalah ideologi (mabda‘) Islam, bukan yang lainnya. Mereka tidak diikat oleh ikatan yang lain, baik ikatan nasab, ikatan kekerabatan, ikatan kemaslahatan atau kemanfaatan duniawi.Abû Dawud mengeluarkan hadits dengan para rawi yang terpercaya, dari Umar bin al-Khathab ra., ia berkata; Rasulullah bersabda: Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok
manusia. Mereka bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah) dan tidak bersedih”.
5. Mereka memperoleh kedudukan itu tanpa menjadi syuhada
Hal ini dikarenakan dalam hadits dikatakan para syuhada tergiur oleh mereka. Tapi, ini tidak berarti mereka lebih utama dari pada para Nabi dan syuhada. Melainkan kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Keistimewaan itu tidak menjadikan mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada.Wallahu a'lam
1) Sumber: Wahai Anak Budak Hitam | Cahaya Siroh
2) Sumber: Bagaimana Khilafah Diruntuhkan | Felix Siauw
3) Ghibthah artinya berangan-angan agar ada pada diri mereka apa yang ada pada diri hamba-hamba Allah tersebut, meski pada saat yang sama apa yang ada pada diri hamba-hamba tersebut tetap ada. (Lihat Imam al-Manawy, Faydhul Qadir Syarhu al-Jami’ ashShaghir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar